Seorang a’bid 20 November 2006
Posted by Panji Pratomo in Personal.trackback
Walaupun satu-satunya cara ia dapat berjalan ialah dengan melompat, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menghadiri masjid untuk shalat berjamaah. Wajahnya ‘putih bercahaya’ walaupun kulitnya berwarna sawo matang, dengan tanda sujud yang terlihat jelas di dahinya serta air muka yang berserah diri kepada Rabbnya.
Ini baru kali keberapa aku bertemu dengannya, namanya pun belum sempat kutanyakan. Namun jika ada satu hal yang bisa saya ungkapkan tentang si fulan ini, saya menghormati keteguhan hatinya.
Masjid ini berdekatan dengan madrasah ibtidaiyah, sehingga banyak sekali anak-anak yang berdatangan saat adzan tiba. Hari ini, anak-anak itu mencemoohnya …
Entah kenapa saya yakin ini bukanlah kali pertama ia mengalami hal ini, namun ia tetap khusyuk menjalani shalatnya. Dan setelahnya ia tetap selalu datang saat Allah memanggilnya …
Saat ia telah menutup doanya setelah shalat ba’da zhuhur yang dilakukannya, ia pun beranjak pergi. Mengenakan sepatu pada kaki kirinya … Hanya kaki kirinya …
Karena Allah telah meminta kembali kaki kanan si fulan ini hingga sebatas pahanya …
Panji Pratomo, 20 November 2006
Comments»
No comments yet — be the first.