jump to navigation

Seorang a’bid 20 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

Walaupun satu-satunya cara ia dapat berjalan ialah dengan melompat, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menghadiri masjid untuk shalat berjamaah. Wajahnya ‘putih bercahaya’ walaupun kulitnya berwarna sawo matang, dengan tanda sujud yang terlihat jelas di dahinya serta air muka yang berserah diri kepada Rabbnya.

Ini baru kali keberapa aku bertemu dengannya, namanya pun belum sempat kutanyakan. Namun jika ada satu hal yang bisa saya ungkapkan tentang si fulan ini, saya menghormati keteguhan hatinya.

Masjid ini berdekatan dengan madrasah ibtidaiyah, sehingga banyak sekali anak-anak yang berdatangan saat adzan tiba. Hari ini, anak-anak itu mencemoohnya …
Entah kenapa saya yakin ini bukanlah kali pertama ia mengalami hal ini, namun ia tetap khusyuk menjalani shalatnya. Dan setelahnya ia tetap selalu datang saat Allah memanggilnya …

Saat ia telah menutup doanya setelah shalat ba’da zhuhur yang dilakukannya, ia pun beranjak pergi. Mengenakan sepatu pada kaki kirinya … Hanya kaki kirinya …

Karena Allah telah meminta kembali kaki kanan si fulan ini hingga sebatas pahanya …
Panji Pratomo, 20 November 2006

Sandaran Hati 6 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Poems & Quotations, Religion.
1 comment so far

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku MendengarMu

Terkubur dalam emosi
Tak bisa bersembunyi
Aku dan nafasku MerindukanMu

Terpuruk ku di sini Teraniaya sepi
Dan ku tahu pasti Kau menemani

Dalam hidupku …
Kesendirianku …

Teringat ku teringat
Pada janjiMu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
‘Sandaran hati

Inikah yang Kau mau
Benarkah ini jalanMu
Hanyalah Engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirMu
Dalam gelapnya
Malam hariku

By : Letto

Ibrah Hari Ini 3 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal, Religion.
add a comment

 

Dalam setiap langkah yang kuambil hari ini, Allah memberikan pesanNYA kepadaku.

Hari ini … aku hampir memutuskan untuk istirahat kerja untuk hari ini, mengabaikan tubuhku yang sebenarnya luar biasa sehat untuk orang seumurku. Aku terbangun pada saat subuh, hanya untuk mendapati diriku kembali tertidur setelahnya, mengabaikan waktu lapangku yang luar biasa kosong tanpa ada aktivitas sama sekali. Bahkan hanya untuk membaca lembaran ayat ayat suci untuk menenangkan hati.

Mungkin karena hal inilah Allah mempertemukanku dengan orang orang seperti mereka….

Aku tak pernah percaya akan adanya kebetulan,
semua pasti terjadi karena adanya kehendak Allah …

Hari ini dengan tubuh yang terseret layaknya orang tua, aku berusaha untuk bersiap siap untuk bekerja. Mengabaikan masa muda penuh kreatifias dan energi yang sebenarnya masih dengan nyata kumiliki. Aku menaiki mikrolet, lalu metro mini 75 …

Dan saat itulah, berbeda dengan hari-hari yang lain. Dimana pengamen akan menyanyikan lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu, orang ini memutuskan untuk menyanyikan lagu Raihan “Demi Masa” :

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian
melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh
gunakan kesempatan yang masih diberi
Semoga kita tak kan menyesal

Masa usia kita jangan disiakan
karena ia takkan kembali

ingat lima perkara sebelum lima perkara
sehat sebelum sakit
muda sebelum tua
kaya sebelum miskin
lapang sebelum sempit
hidup …. sebelum …. mati

Alunan syair itu seperti menghujam tepat ke hati …

Sebenarnya apa saja yang telah kulakukan selama ini

Sehingga aku mencoba untuk memanfaatkan apa yang tersisa dari waktu hari ini, dengan mencari nafkah (Bekerja). Dan karena ini adalah hari jumat, aku bersegera untuk ke masjid untuk mendengarkan petuah sang khatib hari ini … Dan dia berkata saat awal khotbahnya :

Sesungguhnya segala amal ibadah yang kita kerjakan manfaatnya adalah untuk diri kita sendiri, dan tidak memberikan pengaruh apapun terhadap Allah. Dan setiap ibadah yang diperintahkan Allah terhadap manusia adalah sesuatu yang pasti bisa dikerjakan oleh manusia.

“Sesungguhnya AKU tidak akan berlaku zhalim terhadap hamba2KU”

“AKU tidak membebani manusia kecuali ia mampu menanggungnya”

Kita sebenarnya tidak mempunyai alasan untuk tidak beribadah, karena ia telah didesign oleh yang paling mengenal manusia yaitu Sang Pencipta, agar hal tersebut mampu kita kerjakan. Dan yang mengecap manfaat dari itu semua adalah manusia.

Hanyalah syetan yang kerap menggoda kita untuk menghentikan atau menunda atau merusak waktu-waktu ibadah kita. Sehingga memberikan kesan memberatkan bagi kita atau kadang merepotkan bahkan beban … na’udzubillahi min dzalik …

Sungguh saat ditanya di hari akhir nanti, kita tidak akan mempunyai argumen apapun yang bisa membebaskan kita dari kelalaian kita dalam beribadah …

Panji, Jum’at 3 November 2006

Rabu yang menyentuh hati 2 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

 

Kemaren saat berangkat kerja, di metro mini 75, daku bertemu seorang balita belum nyampe 1 tahun umurnya (sebenarnya ini cuma tebak2an umur aja sih :-p), sangat lucu, cewek pula, dan dia cuma bisa berbicara samar2

“woble woble mara bara haya lana”

“mada sagarawa lasa dara bana”

gitu-gitu deh … ^_^

nah terus dia sering banget ngeluarin anggota tubuhnya keluar jendela, tangannya, kepalanya juga. Sempet ngeri juga ngeliatnya, untung ibunya sabar banget ngasih taunya. Pelan-pelan nutup jendela, dan menarik dia perlahan-lahan ke pelukannya.

nah setelah itu tiba2 daku mendengar dibalik semua kata2 samar yg diucapkan, dia tiba2 bersenandung dengan jelas …

“laa ilaaha illallaah”

dengan makhraj dan tajwid yg benar, dan dengan melodi layaknya orang berdzikir abis sholat jamaah. entah kenapa, senandung itu seperti nyanyian favoritnya.

kalo emang ini didikan orangtuanya subhanallah … atau mungkin juga karna rumahnya yg deket musholla atawa masjid…. ???

Ia terdengar sangat polos

namun sangat menyentuh hati

sesekali sambil bersenandung

dia melihat ke belakang ( ke arah daku )

lalu tersenyum

seperti tahu kalo daku mendengarkan senandungnya

SANGAT MENYENTUH HATI
dan jadi malu sendiri ….

Karena tahlil telah menjadi kehidupannya dari saat ia masih belajar bicara ….

Subhanallah …

Panji Pratomo, Kamis 2 November 2006