jump to navigation

Kematian Hati 20 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Religion.
add a comment

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.

Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan.
Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.
Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan.
Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam,
lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih. Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang.
“Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka.
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka
dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,
lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi.
Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya,
bahkan sebagian menyebut-nyebutnya.
Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak.

Ada juga orang yang sama sekali tak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.
Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu ?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
Begitu kerap engkau bergetar dan takut.
Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar.
Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya ?
Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung.

Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”.
Betapa jamaknya ‘dosa-2 kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat ‘TV Thaghut’ menyiarkan segala ‘kesombongan jahiliyah dan maksiat’ ?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat
mendukung ustadzmu yang mengatakan “Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan
dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”

Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang “Ini tidak islami” berarti ia paling islami. Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?

Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil.
Justru engkau akan dihadang tantangan sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah
pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi?
Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah
salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang.
Lalu dengan enteng mengatakan “Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku” dan sesudah itu segalanya selesai.
Berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan “Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua”.
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)?
Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya?
Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mall. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”.

Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “Lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika,

Melainkan apakah engkau punya harga diri?

oleh: KH. Rahmat Abdullah

DIFFERENSIAL CINTA 20 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal, Poems & Quotations.
2 comments

Saat aku bersua
dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar
Membelah rasa
Diagonal-diagonal ruang hatiku
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku
Jika aku adalah akar-akar persamaan x1 dan x2
maka engkaulah persamaan dengan akar-akar 2×1 dan 2×2

Aku ini binatang jalang
Dari himpunan yang kosong
Kaulah integrasi belahan jiwaku
Kaulah kodomain dari fungsi hatiku

Kemana harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?
kulihat variabel dimatamu
Matamu bagaikan 2 elipsoid
hidungmu bagaikan asimptot-asimptot hiperbola
kulihat grafik cosinus dimulutmu
modus ponen…. modus tollens….
entah dengan modus apa kusingkap logika hatimu…..

Beribu-ribu matriks ordo 2×2 kutempuh
Bagaimana kuungkap adjoinku padamu
kujalani tiap barisan geometri
yang tak hingga jumlahnya pula..
tiap barisan aritmatika yang tak terhitung

Akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
Tepat saat jarum panjang dan pendek
berimpit pada pukul 10.54 6/11

Episode Cinta (Alm Ust. Rahmat Abdullah) 20 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Religion.
add a comment

Merendahlah,

engkau kan seperti bintang-gemintang

Berkilau di pandang orang

Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap

Yang mengangkat diri tinggi di langit

Padahal dirinya rendah-hina

(Rahmat Abdullah)

Semoga arwahnya tenang disisiNya dan
karya-karyanya menjadi penyemangat perjuangan
kebenaran

STEP BY STEP Integrating CC.NET with NAnt and Subversion on Windows 20 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Technology.
add a comment

Install Cruise Control.net
- Set “Cruise Control.Net Services” to automatic start
- test http://localhost/ccnet

Extract Nant-0.85-rc3
- see the configuration changes in Nant’s folder or just copy “Nant.exe.config” to [Nant install dir]\bin
- Change the part that uses net-2.0 framework to this:

name=”net-2.0″
family=”net”
version=”2.0″
description=”Microsoft .NET Framework 2.0″
runtimeengine=”"
sdkdirectory=”${path::combine(sdkInstallRoot, ‘bin’)}”
frameworkdirectory=”${path::combine(installRoot, ‘v2.0.50727′)}”
frameworkassemblydirectory=”${path::combine(installRoot, ‘v2.0.50727′)}”
clrversion=”2.0.50727″

- add supported version for .NET framework 2.0

supportedRuntime version=”v2.0.50727″

- [Optional]Create a Windows environment variable called NANT_HOME. The value should equal the location of the NAnt installation directory from step 1.
Add %NANT_HOME%\bin; to the System PATH environment variable.
Open a command window and type nant. You should receive a message like: BUILD FAILED. Could not find a ‘*.build’ file…

Extract svn-1.1.4 to designated dir.
- extract svn-mod-bin-1.1.4.zip and copy the files in svn-1.1.4\bin
- this is required to be able to create _svn folder instead of .svn (known Microsoft issues in reading folder with “.”)
- Configure Subversion : [Sometimes it's already a default]
Create a Windows environment variable called SVN_HOME. The value should equal the location of the Subversion installation directory from step 1.
Add %SVN_HOME%\bin; to the System PATH environment variable.
# Open a command window and type svn. You should receive a message like: Type ’svn help’ for usage.

Make sure every large component required is installed :
- Microsoft .Net framework
- Microsoft Visual Studio
- Everything have been build in dir. lib of subversion

manually build our project, to test the infrastructure

manually build our project from command line using devenv.exe
- first with our .sln then with our .vcproj

Install prerequisitas for ImagineAVC 20 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Uncategorized.
add a comment

Panji’s Rule of thumb:

1. Checkout the latest build from subversion
2. Create folder ‘lib’ equal to existed folder ‘avc’
3. build all of our lib.
4. Install STLPort
5. Install Boost
6. Install IPP Primitives

Install STLPort5 :

1. Open a console window. You can get it executing cmd or command depending on your Windows OS.
2. Go to MSVC++ Bin directory

cd “C:\Program Files\Microsoft Visual Studio 8\VC\bin”
3. Run the vcvars32.bat script. This sets the environment variables required to have the MSVC++ compiler run during the build process. The most important one is the PATH variable so that you can call the cl.exe command which is the MSVC++ command line compiler. [You may omit this step, if you chose 'Install paths to access command-line tools' during Microsoft Visual Studio installation procedure.]
4. Go to the STLport build/lib folder: [make sure you copy \\192.168.2.236\public\installer\STLport5 to local folder]
cd C:\STLport\build\lib
5. Run the following command:

nmake /fnmake-vc8.mak install [since we're using vsNet 2005]

nmake is the make utility from microsoft. /f is an nmake option telling it which make file script to use. You have of course to grant the closer make file to your effective compiler.

After the install finishes, create folder c:\stlport5 and move all C:\STLport to c:\stlport5.

Install Boost
1. extract boost_1_33_0.exe from \\192.168.2.236\public\installer to local folder.
2. Run the vcvars32.bat script from msvc++ bin directory.
3. change directory to our boost_1_33_0
4. Download bjam prebuilt for windows and copy the binary to \tools\build\jam_src\bin.x86
5. run \tools\build\jam_src\bin.x86\bjam “-sTOOLS=vc-8_0″ install

ps known error : system path still missing this three default paths c:\WINDOWS; c:\WINDOWS\system; c:\WINDOWS\system32

Install IPP Primitives
- edit path IPPROOT in environment variables
august 2nd 2005

DirectX SDK
1. Copy baseclasses.zip from \\Monomachine\public\imagine\vs2005porting\baseclasses.zip to C:\DXSDK\Samples\C++\DirectShow
2. Extract here using unzip tools

Ingin seperti Kakek 17 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

Orang-orang desa Mundu, Pamanukan, menyebut dia dengan panggilan Pak Ujang. Di umurnya yang telah lewat 70, dia masih terus melakukan aktivitas seperti yang selalu dilakukannya sejak ia masih remaja. Keterikatannya dengan masjid dan musholla membuatnya selalu hadir dalam jamaah-jamaah sholat. Bahkan saat dia masih menyelundupkan senjata dalam masa perjuangan, atau saat ia bekerja menjadi supir truk berkeliling pulau Jawa. Ia pasti menyempatkan diri untuk melepas lelah dan penat dengan sujud-sujud panjangnya di musholla dan masjid-masjid lokal.Salah satu aktivitas lain yang rutin dilakukannya ialah silaturahim ke saudara-saudara dan anak-anaknya yang tersebar di Pamanukan, ciledug, tangerang, kalideres, pelabuhan ratu, subang, pekayon, dan masih banyak lagi. Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya, ia (sendirian) masih tetap mengunjungi mereka dengan menaiki kendaraan umum.

Pak Ujang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa saat umurnya telah mencapai 77 tahun. Dia tidak pernah mengalami sakit berat, ataupun penyakit tua (encok, rematik, tekanan darah, dll). Pada hari dia meninggal, saat menjelang maghrib, dengan pakaian terbaiknya lengkap dengan sorban, dia mengetuk-ngetuk pintu rumah para tetangganya untuk mengajak mereka untuk sholat maghrib berjamaah. Seperti yang selalu ia kerjakan. Namun dalam perjalanan ke musholla, ia mengeluhkan kakinya yang sakit lalu terjatuh. Semua yang melihat kejadian itu, mencoba untuk membantu Pak Ujang yang saat itu tidak sadarkan diri. Setelah dibawa ke rumah salah seorang anaknya, dan mendatangkan seorang dokter. Dokter hanya dapat berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un …

Ia dipanggil saat mengenakan pakaian terbaiknya yang selalu ia pakai untuk bersujud kepadaNYA, ia dipanggil sesaat sesudah ia mengetuk pintu-pintu dan menyeru tetangganya untuk mendirikan shalat berjamaah, ia tidak memutus tali silaturahim … (akhir september 2005)

Dan seluruh desa Mundu-pun berduka, dan mengantar kepergian seorang sholeh ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jalanan-pun penuh sesak dengan para palayat yang ingin mengantar pribadi santun dan hanif ini. Dan sayapun kehilangan seorang tauladan yang amat saya sayangi karena Allah.

Ramadhan kali ini pun terasa berbeda tanpa kehadirannya, tanpa senyum dan nasihat bijaknya.

Panji, 17 Oktober 2006

Apakah kita tahu ? 10 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

Saat langit kelam dan airpun menghujam bumi, seorang anak tergopoh dengan kacrak ditangannya. Menelusuri jalanan keras ibukota dengan mengharap iba, menjual waktu dan tenaganya yang hampir tak tersisa. 30 bis sudah dituruninya hari ini, namun recehan di kantongnya kini tak lagi cukup mengisi perutnya apalagi untuk adik-adik nya. Kenapa setiap hari ia harus terus melalui semua ini? Iapun tidak tahu. Namun beban yang diusung dipundaknya, bukanlah beban dalam cakupan umurnya…

Ia masihlah seorang bocah…

Dan dalam kebisingan bis kota, sayup kudengar lantunan lagu penyanyi jalanan : …
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
dipaksa pecahkan karang
lemah jarimu terkepal …

nb : Lagu Iwan Fals

Belum ada Judul II 10 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal, Poems & Quotations.
add a comment

Dalam Satu Tarikan Nafas
Memandang bulan yang sama
Benderang meliputi selaksa
Pojok beranda yang berpelita
Juga jiwaku seluruhnya
Yang kian redup dihirup
Dalam Satu Tarikan Masa

Apa arti harta dan tahta?
Sedang maut menghempas mereka
Menyekat nafas di pangkal lidah
Dan dada menghembus berat bulir-bulir dunia
Menghempas memori tawa dan tangis
Dalam potongan potongan gambar diri
Yang dulu gagah dan cantik
Bangga akan dosa

Disisakan hanya satu nafas
Atas nama hidup dan mati
Satu Tarikan Nafas Kematian

Belum ada Judul I 10 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal, Poems & Quotations.
add a comment

Kulewati setapak sunyi
tuk menanti kehadiran
ketika tiadaMU memasungku
jatuh dalam kehinaan susila
Hilang dari genggaman Rabb

Layaknya ruh menjelajahi lembah
gaungnya terdengar melintasi pelosok
Hampa … menusuk jiwa …
menembus kedinginan kabut hutan hujan

kulukis hari-hari diatas kanvas kejujuran
saat kehadiranku mencambuk tiap guratannya
menorehkan tinta hitam jelaga tiap goresannya
mengoyak kanvas dari putih kesucian

selalu saat mimpi itu kembali
membuatku terjaga … tersadar …
disapa hanya soneta kehidupan malam
hanya pada malam-malam seperti ini …

Buta 10 October 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

Dua hari ini, Allah mempertemukanku dengan seorang yang telah Allah cabut penglihatan atas mereka.

Orang yang kutemui pada hari pertama, saat berjalan hampir terperosok ke tepian jalan. Lalu dengan usaha keras berusaha menghentikan Metro Mini 75 (Blok M – Pasar minggu) yang sedang berjalan. Dengan berteriak : “Ini Jurusan BlokM ya ..?” berulang-ulang kali. Saat metro tersebut berhenti, sambil berusaha menggapai kakinya pada pijakan –yang tidak dilihatnya– dia tetap bertanya : “Ini Jurusan BlokM ya ..?”. Setelah ada salah satu orang yang menjawab barulah ia meraba-raba mencari tempat duduk kosong –yang tidak dilihatnya–. Salah satu penumpang wanita panik saat dia mendekat, mungkin takut pria buta ini akan mendudukinya. Walaupun ketakutannya beralasan, karena baru setelah beberapa saat dia baru bisa mendapatkan tempat duduk.

Saat itu cuaca sangat panas, dan dia menduduki tempat –yang tidak dilihatnya– yang terkena cahaya matahari langsung. Sehingga dia berkata ( kepada siapapun yang bisa mendengarkan ) : “Aduh panas banget, bisnya kosong ya? Ada tempat yang lebih adem ga?”. Dia mengatakan hal tersebut dua kali, sampai ada yang menepuk2 kursi sambil berkata : “Ya, disini kosong”. Lalu berjalanlah ia ke tempat duduk belakang –yang tidak dilihatnya– sambil meraba-raba dengan tongkatnya.

Saat ia telah duduk, dia lalu bercerita bahwa dia sebenarnya ingin pergi ke suatu tempat, dan orang yang berada disampingnya pun memberi detail-detail rute yang bisa diambil.
“Daripada naik kereta, lalu turun di sini. Lebih baik naik bis dengan nomor 02 lalu turun disini, setelah itu naik sekali lagi bis jurusan ini dengan nomor ini sampai bertemu tempat ini. Dari situ jalan aja”, kira2 begitulah dia mendeskripsikannya.

Sungguh di pikiran orang-orang yang melihat, sangatlah mudah mengikuti petunjuk bapak tadi. Tapi jika melihat susah payahnya orang ini menaiki metro –yang tidak dilihatnya– , mencari tempat duduk –yang tidak dilihatnya– , mengetahui kapan harus turun –yang tidak dilihatnya– , menanyakan orang –yang tidak dilihatnya– …
Lalu membayangkan bahwa dia harus melakukan semua itu 3 kali lagi, dan kenyataan bahwa orang yang disebelahnya mungkin tidak benar-benar tahu jalan yang dimaksud …
Kemudian membayangkan dia harus menjalani semua itu setiap hari …

Dan orang kedua yang telah Allah pertemukanku dengannya adalah seorang tua dengan banyak uban memenuhi rambutnya dan tongkat di tangannya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri sambil bergumam, sepertinya dia berusaha mengatakan sesuatu kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Atau mungkin ingin meminta tolong atau meminta petunjuk jalan, karena kekurangan yang dimilikinya. Tapi tidak ada orang yang mendekatinya, sedang Metro mini yang kunaiki sudah mulai berjalan. Dan aku hanya bisa membayangkan dengan pilu … bagaimana perasaan bapak tadi … hidup dalam kegelapan … di dunia yang tak lagi ramah … dan dia, masih di simpang jalan itu … tiada orang yang mengindahkan …

Bagaimana jika itu terjadi padaku …

Sedang Allah SWT berfirman :
“Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” [2:20]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” [47:24]

Sungguh apa yang akan datang adalah dekat, dan kepunyaan kita di dunia adalah kepunyaan Allah, dan kita semua akan kembali kepadaNYA.

Panji, 13 September 2006