jump to navigation

Bukti Kebenaran Islam 28 October 2009

Posted by Panji Pratomo in Personal, Religion.
add a comment

Dan diantara argumentasi atau bukti akan kebanaran islam kepada orang-orang yang tidak mempercayai tuhan adalah melalui dalil-dalil aqli (akal).

Syeikh Ali Tanthowi mengatakan bahwa sesungguhnya mengimani Allah swt termasuk masalah yang aksioma yang dapat dirasakan dengan perasaan jiwa sebelum dibuktikan dengan dalil akal.

Tentang perasaan jiwa seseorang yang secara aksiomatis mengimani keberadaan Allah swt telah diterangkan di dalam firman-Nya :
Artinya : “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Mengapa banyak orang tidak memperhatikannya? Hal itu dikarenakan mereka tidak pernah mau memikirkan tentang dirinya sendiri, firman-Nya :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ
Artinya : “Mereka lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka “ (QS. Al Hasyr : 19)

Cobalah tanyakan kepada orang yang atheis itu,
”Apakah engkau yang menjadikan dirimu dengan kehendak dan akalmu sendiri?
Apakah engkau yang memasukkan dirimu kedalam perut ibumu?
Apakah engkau sendiri yang memilih perempuan itu sendiri sebagai ibumu?
Apakah engkau yang pergi menjemput bidan untuk mengeluarkanmu dari perut itu?
Jadi, apakah dia dijadikan dari asal tiada tanpa adanya Sang Pencipta dan tanpa ada yang menjadikannya?
Ini adalah suatu hal yang mustahil.

Lalu apakah dia dijadikan dari benda-benda yang telah ada sebelumnya, seperti gunung, laut, matahari, dan bintang-bintang?

Orang-orang atheis mengatakan bahwa alamlah yang menciptakan manusia,
alamlah yang memberikannya akal!
Dan jika ditanyakan kepadanya siapakah yang menciptakan alam?
Dia menjawab,
”Ia terjadi secara kebetulan..” menurut hukum kemungkinan (probability law).

Benarkah “kebetulan” yang menjadikan 9000 kelenjar ludah pada lidah,
yang kesemuanya siap untuk dipakai sebagai perasa.

Dan didalam telinga terdapat 100.000 sel pendengaran.
Pada setiap mata terdapat 130 juta sel
yang kesemuanya siap untuk menerima cahaya.

Bumi beserta keajaiban-keajaiban dan rahasia-rahasia yang ada didalamnya,
lapisan udara yang mengelilinginya,
makhluk-makhluk hidup yang dikandungnya,
ada yang tak dapat dilihat dan ditangkap.

Bentuk-bentuk ajaib dari atom es yang gugur,
diciptakan oleh-Nya dengan sangat detil
dan keindahan yang ada didalamnya
tidak dapat tersingkap oleh kita
melainkan beberapa waktu belakangan ini.

Matahari yang jaraknya dari kita lebih dari 100 juta km
akan tetapi bila jauhnya diukur dengan tahun cahaya
maka jarak matahari dari kita mencapai delapan detik.

Lalu bagaimana pula dengan jarak bintang-bintang
yang cahayanya baru sampai kepada kita dalam satu juta tahun cahaya
—satu tahun cahaya sama dengan 100.000 milyar km—
maka berapa km kah jaraknya kalau satu juta tahun cahaya?

Masih banyak lagi bintang-bintang yang belum terjangkau oleh ilmu falak
melainkan hanya berupa gumpalan yang bersinar,
padanya terdapat planet-planet
yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah swt saja.

Bintang-bintang ini
—yang besarnya tidak dapat digambarkan oleh akal manusia—
berjalan dengan kecepatan (laju) yang sangat tinggi,
suatu kecepatan yang melebihi batas-batas angka.
Bagaimanakah bisa tidak terjadi tabrakan antara satu dengan yang lainnya?

Ada seorang ahli falak yang mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya pelanggaran antara sesama bintang-bintang itu sama seperti kemungkinan terjadinya pelanggaran enam ekor lebah yang dilepas di atmosfir bumi.

Luasnya atmosfir bumi bagi enam ekor lebah
sama halnya dengan luasnya ruang angkasa raya
dibagi bintang-bintang yang tak terhitung dan tak terhingga itu.

Atom yang tidak terlihat,
melainkan dengan kaca pembesar elektronik.
Atom yang dahulu disebut oleh saintis dan para filosof kuno
dengan “bagian yang tak bisa dipecah-pecah lagi.”

Atom, yang menurut ahli sains,
jika 40 juta atom dibariskan secara berderet panjangnya baru mencapai 1 cm,

ditengahnya terdapat ruang yang mempunyai inti
sementara disekitarnya beredar partikel-partikel halus
sama seperti peredaran bintang-bintang di angkasa.

Inti pada satu atom ibarat sebutir biji gandum bagi istana yang luas.
Bobot dari inti-inti atom itu lebih dari berat 1800 elektron ini.

Maka apakah itu semuanya merupakan hasil atau akibat dari “kebetulan”?!

Selanjutnya tanyakan kepadanya,”Tahukah anda contoh dari perkataan itu?”

Misalnya ada dua orang yang tersesat di padang pasir
lalu melintasi sebuah istana yang megah
dindingnya penuh dengan ukiran-ukiran dari emas yang sangat indah,
permadaninya tebal, jam serta batu-batu permata.

Salah seorang dari mereka berkata,
”Pastilah ada orang yang membangun istana ini dengan memasang permadaninya.”
Kemudian yang seorang lagi menjawab,
”Engkau adalah orang yang kolot, itu semuanya adalah proses alam.”

Orang yang pertama bertanya,
”Bagaimanakah alam dapat membuat seperti ini?’
temannya menjawab,
”Di sini dahulu ada batu
kemudian terjadi banjir, angin, serta pengauh-pengaruh udara
sehingga bertumpuk atau tertimbun.
Kemudian dengan berlalunya kurun demi kurun,
secara “kebetulan” ia menjadi dinding.”

Orang itu bertanya lagi,
”Permadani itu dari apa?”

Temannya menjawab,
”Permadani itu berasal dari bulu-bulu domba yang berterbangan.
Kemudian satu sama lain saling menyatu
dan dikenai zat pewarna lalu tercelup dan memadu,
sehingga terjadilah permadani.”

Orang itu bertanya lagi, ”Sedang jam itu?”

Temannya menjawab,
”Besi yang sudah dimakan karat,
akibat pengaruh udara terpotong-potong bulat dan bersatu.
Kemudian dengan berlalunya masa demi masa
sehingga menjadi bentuk seperti itu.”

Pastilah anda akan mengatakan orang yang seperti itu adalah orang gilaa??

Sesungguhnya itu semua menunjukkan
bahwa ada yang menciptakan dan mengaturnya
yang tidak lain adalah Allah swt.
Dialah yang bertindak terhadap alam
sebagaimana tindakan seorang pemilik
yang bebas terhadap barang yang dimilikinya.

Allah lah yang mengetahui berapa helai daun pada setiap pohon,
bentuk tiap-tiap daunnya,
letaknya dan berapa banyak “bakteri” di dunia ini.

Berapa panjang, lebar dan bagian-bagian yang terdiri dari padanya,
electron-elektron yang terdapat didalam atom
baik yang diam maupun yang bergerak,
berapa jumlahnya, tabrakan yang terjadi padanya,
sifat-sifatnya, bergerak atau diam, perkembangan atau peralihan.

Semua itu tercatat di sisi-Nya dalam sebuah “kitab” (Lauh Mahfuzh).

Alam ini keseluruhannya,
Dia-lah Tuhannya,
Dia-lah yang menjadikan dan memeliharanya.

Dia-lah yang merubah satu hal kepada hal yang lain.
Dia-lah yang menjadikan setiap atom dari padanya

agar membuat manusia yang berakal untuk berfikir dan mencarinya.

Dan apabila seseorang telah mengakui bahwa Allah itu ada
dan Dia-lah Tuhan seluruh alam
dan Dia-lah pemilik kerajaan
maka janganlah dia menyembah selain-Nya
dalam bentuk ibadah apa pun.
(Definisi Umum Tentang Aqidah Islamiyah hal 87 – 100)

Islam adalah agama Allah yang mengakui keesaan-Nya dan tidak mengakui ketuhanan yang banyak. Hal itu bisa dilihat dengan berbagai keteraturan yang ada di alam ini—sebagai penjelasan diatas—tentunya hal yang mustahil apabila keteraturan itu dilakukan oleh lebih dari satu pencipta. Dan jika hal ini terjadi maka pastilah alam ini akan hancur lebur, sebagaimana firman-Nya :

أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِّنَ الْأَرْضِ هُمْ يُنشِرُونَ ﴿٢١﴾
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿٢٢﴾
Artinya : “Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al Anbiya : 21 – 22)

Seperti halnya tidak mungkin didalam satu kendaraan yang bergerak terdapat dua orang supir dan jika hal itu terjadi pastilah kendaraan itu akan mengalami kecelakaan atau seperti juga sekelompok tentara yang dikomandoi oleh lebih dari satu pemimpin ?! atau sebuah sekolah yang dipimpin oleh dua atau lebih kepala sekolah?!

Dengan sarana obyektif apa pun seseorang melihat islam maka ia akan mendapatkan kebenarannya didalamnya baik dengan dalil fitrah, naqli maupun aqli (akal) dan dari sisi mana pun seseorang memandangnya maka ia akan mendapatkan bahwa islam adalah agama yang sempurna baik dari sisi ideologi, social, ekonomi, politik, hukum ataupun yang lainnya.
Firman Allah swt :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah : 3)

Wallahu A’lam

Sumber : eramuslim.com

Hukum Bekerja di Bank Konvensional 28 October 2009

Posted by Panji Pratomo in Personal, Religion, Thoughts.
Tags: , ,
add a comment

Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan bahwa sistem ekonomi islam ditegakkan pada asas memerangi riba dan menganggapnya sebagai dosa besar yang dapat menghapuskan berkah dari individu dan masyarakat, bahkan dapat mendatangkan bencana di dunia dan akherat.

Hal ini telah disinyalir di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika kita membaca firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al Baqoroh : 278 – 279)

Sabda Rasulullah saw,”Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” (HR. Hakim)

Dalam peraturan dan tuntunannya, Islam memerintahkan umatnya untuk memerangi kemaksiatan. Apabila tidak sanggup minimal ia harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya tidak terlihat dalam kemaksiatan itu. Oleh karena itu Islam mengharamkan semua bentuk kerja sama atas dosa dan permusuhan, dan menganggap setiap orang yang membantu kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya, baik pertolongan itu dalam bentuk moril ataupun materiil, perbuatan ataupun perkataan. Dalam sebuah hadits hasan, Rasulullah saw bersabda mengenai kejahatan pembunuhan :

“Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan membenamkan mereka dalam neraka.” (HR. Tirmidzi)

Sedangkan tentang khamr, beliau saw bersabda,

”Allah melaknat khamr, peminumnya, penuangnya, pemerasnya, yang minta diperaskan, pembawanya dan yang dibawakannya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap,

”Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap, yeng menerima suap dan yang menjadi perantaranya.” (HR. Ibnu Hibban dan Hakim)

Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan,

”Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya.” Dan beliau saw bersabda,”Mereka itu sama.” (HR. Muslim)

Ibnu Masud meriwayatkan,

”Rasulullah saw melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi), sementara itu didalam riwayat lain disebutkan :

“Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya—jika mereka mengetahui hal itu—maka mereka dilaknat melalui lisan Nabi Muhammad saw hingga hari kiamat.” (HR. An Nasa’i)

Hadits-hadits shahih itulah yang menyiksa hati orang-orang islam yang bekerja di bank-bank atau kongsi yang aktivitasnya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai kongsi, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw,

”Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorang pun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia terkena debunya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat dirubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat dirubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khmar dan yang lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap muslim yang mempunyai kepedulian dengan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya dan segenap kemampuannya dengan berbagai sarana yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berfaham sosialis.

Di sisi lain apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan perbankan tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan penitipan, dan sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram. Oleh karena itu, tidak mengapa bagi seorang muslim menerima (melakukan) pekerjaan tersebut—meskipun hatinya tidak rela—dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diredhoi agama dan hatinya. Hanya saja dalam hal ini, hendaklah ia melaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan Tuhan-nya beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya, sabda Rasulullah saw,

”Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)

Jangan pula dilupakan adanya kebutuhan hidup yang oleh para fuqaha diistilahkan telah sampai tingkat darurat. Kondisi inilah yang menjadikan saudara penanya untuk menerima –tetap bekerja di bank—sebagai sarana mencari kehidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah swt :

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya : “…..tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqoroh : 173)
(Fatwa-fatwa Kontemporer, juz I hal 766 – 770)

Wallahu A’lam

Sumber : eramuslim.com

Makruh shalat dengan memejamkan mata 23 October 2009

Posted by Panji Pratomo in Religion, Thoughts.
add a comment

Para ulama memakruhkan memejamkan mata saat mengerjakan shalatnya, seperti dikatakan oleh para ulama Hanafi, Maliki, Hambali dan sebagian dari Syafi’i. Mereka beralasan bahwa hal itu adalah perbuatan orang-orang Yahudi dan bertentangan dengan yang disunnahkan oleh Rasulullah saw, yaitu mengarahkan pandangannya ke tempat sujud.

Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabrani dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila salah seorang diantara kalian berdiri untuk mengerjakan shalat maka janganlah dia memejamkan kedua matanya.”

Meskipun hadits Ibnu Abbas diatas adalah hadits lemah, sebagaimana disebutkan Imam al Haitsami didalam kitabnya “Majma’ Az Zawaid” akan tetapi para ulama membangun pendapat mereka yang memakruhkan memejamkan mata saat mengerjakan shalat itu diatas atsar para sahabat.

Jadi pada dasarnya memejamkan mata saat shalat adalah makruh kecuali apabila hal itu dibutuhkan, seperti :
dapat menambah kekhusyu’annya, menjaga fikirannya agar tidak melanglang-buana ketika mengerjakan shalat dikarenakan melihat sesuatu yang ada dihadapan atau dibawahnya, terdapat wanita asing yang dapat menggangu shalatnya atau sesuatu lainnya maka hal itu diperbolehkan.

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abidin dari kalangan ulama Hanafi didalam kitabnya “Ad Dur al Mukhtar” bahwa memejamkan mata saat shalat adalah dilarang (makruh) kecuali apabila hal itu dapat menyempurnakan kekhusyu’annya.

Sumber : eramuslim.com

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia 5 March 2008

Posted by Panji Pratomo in Family & Friends, Personal, Religion.
3 comments

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana)

Undangan Pernikahan 21 December 2007

Posted by Panji Pratomo in Personal, Religion.
12 comments

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan mengharap rahmat dan ridho Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan tasyakuran Walimatul ‘Ursy kami yang Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari Ahad,
6 Januari 2008
Pukul 11.00 – 13.00 WIB
Bertempat di Gedung Serbaguna Palem Semi Tangerang

Semoga dengan pernikahan ini Allah senantiasa memberikan kami keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah serta senantiasa mendapat barakah dari Alloh SWT.

Berkenaan hal tersebut, mohon kiranya sahabat dapat mendoakan kami:

Barakallahu laka wa baraka a’laikuma wa jama’a bi khoirin

Kehadiran serta doa restu Bapak/Ibu/Saudara( i) merupakan kehormatan dan kebahagian bagi kami.


Terima kasih

Panji dan Feni.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Undangan Hal 2

Undangan Hal 3

Undangan Hal 1

Which is better ? 17 May 2007

Posted by Panji Pratomo in Uncategorized.
add a comment

Hidupkanlah malam dengan dzikrul maut ….
adalah lebih baik menangisi kematian saat hidup
dibanding menyesali kehidupan saat maut telah menjelang.

Bahwa manusia sumber salah dan alpa itu adalah sunnatullah…
Namun taubat hanyalah bagi mereka yang ingin diampuni dan diselamatkan dari api neraka.

Killing me softly 17 May 2007

Posted by Panji Pratomo in Uncategorized.
1 comment so far

I know i haven’t written a single post in ages. I just can’t find the mood to do it just yet. Plus i’m in a state of remorse.

Everyone in this wicked world is sinful, that what makes us human. Those who are blessed are those who can climb their way out of the dark valleys of sin, to breath the air of faith and shined by hidayah.

I wish i can stand on a place that high. To be able to easily cry because of sin, or just a touch of my forehead in a sajjadah, or a few words of the holy Quran.

My sins is eating me alive …
with only Quran as my only salvation
an Oasis in the vast sandy desert

Software zakat 26 January 2007

Posted by Panji Pratomo in Islamic Software, Personal, Religion, Technology, Thoughts.
22 comments

Dari awalnya ini hanya kerjaan iseng menggunakan c++, referensi tentang perhitungan zakat didapat dari math-muslim@yahoogroups.com.

Disarikan oleh Arif Purbadi untuk Jama’ah Masjid Assalaam Baro Jaya Sektor 3A dari berbagai sumber :
- Ijtihad Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas
- Hukum-hukum zakat oleh Dr. Yusuf Qardhawi
- Pedoman Perhitungan Zakat Maal – Isnet dalam www.isnet.org
- Hasil Seminar Zakat oleh Team Perumus Badan Dakwah Islam Unit Korpri Pertamina Pusat

Filenya bisa di download di sini …

versi Windows application .exe

Zakat Software UI

Zakat.2.0 Pake Java (file installer termasuk Jre.1.5.0.2) :
http://rapidshare.com/files/61727367/setup.exe.html

Zakat.2.0 Pake Java (Zip file tanpa Jre.1.5.0.2) :
http://rapidshare.com/files/61508617/Zakat.2.2.zip.html

Zakat.1.0 Versi Lama, masih pake C++ :
http://www.badongo.com/file/2093766

versi Java Applet (dapat diembed di web, lengkap dengan contoh htmlnya)

http://rapidshare.com/files/90824533/ZakatApplet.zip.html

nb: untuk applet, hanya akan berjalan di browser yg telah terinstall java runtime environment.

Program ini juga ada source code nya, bagi yg ingin belajar basic OOP.
Jika ada saran atau kritik yg membangun, atau usulan tambahan fitur atau memperbaiki interface. Semua akan ditampung :D

Semoga bermanfaat.

Seorang a’bid 20 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Personal.
add a comment

Walaupun satu-satunya cara ia dapat berjalan ialah dengan melompat, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menghadiri masjid untuk shalat berjamaah. Wajahnya ‘putih bercahaya’ walaupun kulitnya berwarna sawo matang, dengan tanda sujud yang terlihat jelas di dahinya serta air muka yang berserah diri kepada Rabbnya.

Ini baru kali keberapa aku bertemu dengannya, namanya pun belum sempat kutanyakan. Namun jika ada satu hal yang bisa saya ungkapkan tentang si fulan ini, saya menghormati keteguhan hatinya.

Masjid ini berdekatan dengan madrasah ibtidaiyah, sehingga banyak sekali anak-anak yang berdatangan saat adzan tiba. Hari ini, anak-anak itu mencemoohnya …
Entah kenapa saya yakin ini bukanlah kali pertama ia mengalami hal ini, namun ia tetap khusyuk menjalani shalatnya. Dan setelahnya ia tetap selalu datang saat Allah memanggilnya …

Saat ia telah menutup doanya setelah shalat ba’da zhuhur yang dilakukannya, ia pun beranjak pergi. Mengenakan sepatu pada kaki kirinya … Hanya kaki kirinya …

Karena Allah telah meminta kembali kaki kanan si fulan ini hingga sebatas pahanya …
Panji Pratomo, 20 November 2006

Sandaran Hati 6 November 2006

Posted by Panji Pratomo in Poems & Quotations, Religion.
1 comment so far

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkah aku MendengarMu

Terkubur dalam emosi
Tak bisa bersembunyi
Aku dan nafasku MerindukanMu

Terpuruk ku di sini Teraniaya sepi
Dan ku tahu pasti Kau menemani

Dalam hidupku …
Kesendirianku …

Teringat ku teringat
Pada janjiMu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika Kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
‘Sandaran hati

Inikah yang Kau mau
Benarkah ini jalanMu
Hanyalah Engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku
Aku hilang arah
Tanpa hadirMu
Dalam gelapnya
Malam hariku

By : Letto